Van Dijk Absen, Garis Serang Liverpool Jadi Gersang | Berita Sepak Bola 2021 OkeGoal.Com – OkeGoal

OkeGoal –

Siapa yang menyangka kemandulan lini serang Liverpool saat ini akibat absennya Virgil van Dijk, apa hubungannya? 4 pertandingan membuat Liverpool tak mampu mencetak gol. Faktanya, sejak gol terakhir Liverpool yang dicetak oleh Sadio Mane ke gawang West Brom, sudah ada lebih dari 70 percobaan tembakan.
Namun tak satupun yang bisa menghasilkan gol yang membuat Liverpool kini terancam terlempar dari 4 besar. Sungguh ironis melihat Liverpool justru memiliki trio lini serang yang menakutkan di Eropa.

Trisula Mohamed Salah, Roberto Firmino dan Sadio Mane adalah salah satu trisula paling mengerikan di Eropa saat ini. Namun ironi memiliki trio maut bukanlah jaminan Liverpool bisa lepas dari masalah mandul dalam 4 pertandingan terakhir. Banyak pengamat sepak bola di Inggris juga mencoba menganalisis apa yang sebenarnya salah dengan lini serang Liverpool.
Menariknya, dari analisis pengamat yang sebagian besar adalah mantan pemain, ditemukan alasannya. Yakni, absennya Virgil van Dijk yang secara tidak langsung memengaruhi lini serang Liverpool.

Sebagai informasi, Virgil van Dijk sudah absen membela Liverpool sejak Oktober lalu. Saat itu, Van Dijk mengalami cedera serius setelah kakinya dipotong oleh kiper Everton Jordan Pickford. Menariknya, dalam kejadian itu, Pickford tidak diberi kartu merah, padahal belakangan diketahui, wasit akhirnya mengakui kesalahannya.
Kembali ke masalah Liverpool, tentu sedikit membingungkan ketika absennya Van Dijk ternyata berdampak pada kemandulan lini serang. Lantas, bagaimana hubungan absennya Virgil van Dijk yang rupanya memengaruhi lini serang Liverpool?

Gangguan keseimbangan antar lini Liverpool

Merujuk pada komentar legenda Liverpool, John Barnes, absennya Van Dijk sedikit mengubah gaya bermain Liverpool. Sehingga berdampak pada kreativitas dan mentalitas pemain Liverpool saat bertanding.

“Ketika Anda terbiasa memainkan gaya tertentu dengan cara tertentu dengan tiga gelandang pekerja keras, Anda memiliki Van Dijk di belakang yang memungkinkan full-back untuk maju dengan percaya diri dan menjadi kreatif,” kata Barnes kepada talkSPORT.

Harap dicatat bahwa Liverpool bermain tanpa seorang playmaker. Karenanya, kreativitas serangan Liverpool secara tidak resmi diserahkan kepada duo bek sayap, yakni Alexander-Arnold dan Robertson. Barnes melihat dua bek sayap Liverpool tak bisa fokus membangun serangan tim karena takut terkena serangan balik.
Itu pula yang menjadi alasan lini pertahanan Liverpool tidak setinggi saat Van Dijk masih ada.

Sebenarnya Liverpool sudah memiliki Fabinho yang didapuk sebagai bek pengganti Van Dijk, ia terkadang ditemani Jordan Henderson karena Joel Matip cedera. Namun justru duet Fabinho dan Henderson yang dianggap menjadi kelemahan legenda Manchester United Garry Neville.

“Pemain lini tengah Liverpool yang paling kuat (Fabinho dan Henderson) bermain sebagai bek tengah. “Tidak ada ritme dan kohesi yang sama yang mungkin menimbulkan masalah bagi tiga penyerang Liverpool,” kata Neville.

Maksud Neville di sini, ketika Fabinho dan Henderson dipasangkan, maka lini tengah Liverpool yang diisi Wijnaldum, Thiago dan Shaqiri justru menjadi titik lemah. Masalahnya, tidak ada koordinasi yang baik untuk menciptakan ritme dan kohesi yang harmonis antara ketiga pemain tersebut. Thiago seakan merindukan sosok Leon Goretzka yang biasa melindunginya, Wijnaldum tak bisa bekerja sama dengan Shaqiri yang butuh waktu lama untuk mengontrol bola.
Oleh karena itu, koneksi antara lini tengah dan depan tidak mengalir seperti biasanya.

Belum lagi, sentuhan Firmino, Mane dan Salah juga seakan hilang begitu saja. Sehingga ketika duet bek sayap dan lini tengah bekerja mati-matian untuk berkoordinasi menciptakan peluang, tiga penyerang utama Liverpool gagal mengeksekusi. Kesimpulannya, wajar saja jika pelatih Jurgen Klopp dalam wawancara mengaku bingung dengan masalah kemandulan di lini serang.
Masalahnya, telah terjadi gangguan keseimbangan antar lini Liverpool yang begitu kompleks dan rumit.

Berawal dari absennya Van Dijk, duet bek sayap itu mengalami mental sehingga ragu untuk maju dan akurasi umpan silang sangat buruk. Fabinho yang bertugas menjaga keseimbangan lini tengah terpaksa menjadi seorang bek. Hal ini membuat lini tengah kehilangan harmoni karena minimnya pemain-pemain adu seperti Fabinho. Kisruh peredaran bola dari belakang dan tengah diperparah dengan sentuhan akhir yang buruk dari para striker, sehingga lini serang Liverpool benar-benar mandul.

.