PSM Sanksi FIFA, Zulkifli Ucapkan Rasa Syukurnya | Berita Sepak Bola 2021 OkeGoal.Com – OkeGoal

OkeGoal –

Makassar – Kapten PSM Makassar, Zulkifli Syukur, mengaku sedih dengan situasi yang dialami tim Juku Eja di mana FIFA memberlakukan sanksi.

Seperti diketahui, FIFA telah menjatuhkan sanksi kepada PSM Makassar berupa larangan mendaftarkan pemain baik di tingkat nasional maupun internasional, selama tiga periode.

Artinya, PSM Makassar tidak boleh mendatangkan pemain baru selama periode tersebut.

Ini berawal dari laporan pemain asing PSM Makassar, Giancarlo Lopes, kepada FIFA terkait gajinya yang belum dibayar oleh manajemen PSM.

Giancarlo Lopes sendiri telah memutuskan hengkang dari PSM sejak bulan lalu.

Menurut Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (LIB), Akhmad Hadian Lukita, jika PSM Makassar tidak segera menyelesaikan masalah, Pasukan Ramang terancam tidak bermain di Liga 1 2021.

“Kemungkinan seperti itu (tidak bisa bermain di Liga 1 2021),” kata Akhmad Hadian Lukita.

Betul (untuk registrasi pemain), sanksi ini berlaku untuk kompetisi musim 2021 atau kompetisi terdekat, ”lanjutnya.

Terkait sanksi yang dijatuhkan FIFA kepada PSM Makassar, Zulkifli Syukur berharap manajemen PSM segera menyelesaikan masalah tersebut.

“Tentu sedih mendengar kabar ini, apalagi soal sanksi dari FIFA,” kata Zulkifli.

“Klub wajib menyelesaikan semua masalah yang menyangkut hak pemain,” sambungnya.

“Tentu ini sesuatu yang harus diselesaikan, apalagi sanksi ini langsung dari FIFA,” ujarnya.

Namun, ini bukanlah masalah yang mudah untuk diselesaikan karena PSM bukan hanya satu pemain yang menunggak.

Menurut laporan General Manager Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) Ponaryo Astaman, PSM tercatat menunggak gaji hampir semua pemainnya.

Menurut Ponaryo, hal itu didapat dari laporan langsung para pemain PSM ke APPI.

“Ya, ada pemain lokal yang masih menunggak gaji,” kata Ponaryo Astaman, Selasa (16/2/2021).

“Bahkan hampir semuanya menyampaikan laporan ke APPI,” ujarnya.

“Setelah mendapat laporan, APPI melakukan korespondensi dengan PSM dan tidak ada solusi. Akhirnya dibawa ke pengadilan, prosesnya sama dengan NDRC, seperti itu,” lanjutnya.


.